Electric Car Batteries Management System

Inspiration


Electric Car Batteries Management System
Electric Vehicle Challenge
Automotive manufacturers also have to face several challenges in order to accelerate the arrival of the era of electric vehicles.
1. Battery
2. The distance is limited and requires a heavy and large battery size
3. Battery charging is still relatively long
4. The battery price is still high
5. Battery life may vary up to 8 years depending on vehicle usage
6. Socialization and people's low understanding of electric vehicles.
7. Integration of the grid.

Electric Car Battery Management System Attempts to Respond to the Challenges of Electric Vehicles
1. Using existing batteries in the market today
2. The size of the number of batteries can be managed, thereby reducing the weight of 
    the battery volume
3. Management of battery charging so that electric car consumers are relatively faster
    using battery capacity requirements
4. By reducing the volume of the battery, the need for battery costs can be reduced
5. The life of the batteries in the market today is managed so that consumers use electric cars
    do not feel burdened
6. Integrity of the grid is managed by involving a minimarket as a filling retailer
     Battery



Collaboration Is Needed In A Full Implication Of The Electric Car Battery Management System
1. The cost of the Electric Car Battery Management System Module is in the range of
    Rp. 5 million
2  Electric Vehicles for example application (if needed)
3. Long-term cooperation agreement
====0000====

Istana Negara Menurut Ku
Karena tidak memiliki dasar pendidikan arsitektur, Aku lebih mendasari imajinasi melalui beberapa rujukan.

1. Beberapa Negara seperti halnya kerajaan Inggris membangun istana dalam layout area mirip huruf O


2. Amerika meski kompleksnya adalah perimeter. Namun ingin memakai rujukan konsep menyambungkan beberapa bangunan. Seakan 3 bangunan digabungkan garis.
 

3. Melihat Istana Kepresidenan Abu Dhabi, imajinasi yang terkesan adalah beberapa bangunan disatukan
 

Serta mempelajari bagaimana Bapak Presiden Soekarno dalam mengilustrasikan Lingga Yoni pada Monumen Nasional (Monas) hingga selesainya tidak terlihat jelas, pada Monumen Nasional yang kita banggakan.

Rancangan arsitektur Masjid Istiqlal mengandung angka dan ukuran yang memiliki makna dan perlambang tertentu. Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter, angka "45" melambangkan tahun 1945, tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. 
Kubah utama ini ditopang oleh 12 tiang ruang ibadah utama disusun melingkar tepi dasar kubah, dikelilingi empat tingkat balkon. Angka "12" yang dilambangkan oleh 12 tiang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal. Adanya dua bangunan masjid; yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping (berfungsi sebagai tangga, ruang tambahan dan pintu masuk Al Fattah), serta dua kubah yaitu kubah utama dan kubah pendamping, melambangkan angka "2" atau dualisme yang saling berdampingan dan melengkapi; langit dan bumi, kepentingan akhirat dan kepentingan duniawi, bathin dan lahir, serta dua bentuk hubungan penting bagi Muslim yaitu Hablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhannya) dan Hablum minannaas (hubungan manusia dengan sesamanya).

Jadi menurut versi ku, Istana Negara dibangun dengan perlambang Bhinneka Tunggal Ika dengan perwujudan arsitektur rumah adat di Indonesia (seperti Istana Kepresidenan Abu Dhabi, kumpulan beberapa bangunan). Rumah adat dengan inovasi dibangun layaknya beton gedung yang disatukan oleh bangunan lurus (seperti White House) serta membentuk perimeter lingkaran (seperti London, Buckingham Palace) sebagai perlambang rantai atau Sila ke 3 dari Pancasila yang berbunyi “Persatuan Indonesia”
 

Dengan menghargai kekayaan arsitektur semua daerah di Indonesia merupakan perlambang, bahwa Istana Negara milik seluruh daerah/masyarakat Indonesia. Dan telah sepakat bersatu untuk selamanya sejak awal kemerdekaan Indonesia.
Modifikasi dapat disesuaikan menurut kebutuhan ruangan Istana Negara.
Bangsal kencono (Yogyakarta) dimodifikasi menjadi beranda Istana Negara. Didasari arsitektur ruang terbuka. Sehingga liputan pers akan mudah pengaturannya, saat penerimaan tamu negara ataupun acara kenegaraan lainnya.

Rumah (non panggung berdinding tertutup) dengan konsentrasi utama fokus awal terlihat berupa anak tangga, seperti Selaso jatuh Kembar (Riau), Rumah Joglo (Jawa Tengah), Bubungan Lima (Bengkulu) dan lainnya dapat dimodifikasi sebagai Gedung ruang tamu kenegaraaan. Baik tamu negara lain, kabinet negara atau tamu undangan lainnya yang dilakukan kenegaraan. Dengan utama perlambang adalah anak tangga, sehingga setiap pertemuan diharap mencapai kenaikan/perkembangan positif.

Rumah adat utama tidak terlihat arsitektur tangga seperti Rumah Baloy (Kalimantan Utara), Gapura Bentar (Bali) dijadikan Gedung Tinggal Presiden atau Rumah menginap Tamu Negara.

Rumah panggung seperti Panggung Kajang Leko (Jambi), Rumah Lamin (Kalimantan Timur) dimodifikasi bagi membutuhkan aktifitas kenegaraan kendaraan secara tindakan sigap misalnya Pasukan Pengamanan Presiden. Sehingga kendaraan dapat ditempatkan dibawah Panggung agar siap digunakan.

Rumah adat terlihat arsitekur bertingkat dimodifikasi menjadi gedung staf kepresidenan, seperti rumah adat dulopuha (Gorontalo), rumah pewaris (Sulawesi Utara).

Rumah adat terlihat arsitektur memanjang/melebar seperti Rumah Gadang (Sumatera Barat), Rumah Balon (Sumatera Utara) dijadikan gedung Balai pertemuan/Hall untuk menjamu pentas seni/lainnya bagi tamu negara.

Rumah adat utama terlihat arsitektur lingkaran seperti Rumah Kaki Seribu (Papua Barat), Rumah Mbaru Niang (NTT) dijadikan museum rekam jejak semua Presiden. Karena bangsa yang besar bisa menghargai sejarah. Arsitektur melingkar sebagai perlambang perputaran waktu.

Semua rumah adat dibangun dengan luasan dimensi besar sehingga diharap kemegahan istana akan terasa sebagai kesatuan kompleks Istana Negara
====0000====

Kompetensi Di Kehidupan Kita
Kenapa Kita Harus Bekerja?
Kita bekerja alasan paling mendasar adalah untuk mencari nafkah, yaitu mendapatkan hal-hal mendasar yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup, seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Untuk mendapatkan semua itu dibutuhkan biaya dan orang perlu bekerja untuk dapat membayar biaya tersebut.

Tujuan bekerja yang lebih tinggi tingkatannya adalah untuk berkarier. Apa yang dimaksud berkarier? Karier mengandung pengertian pengembangan diri atau kemajuan diri. Misalnya ada yang pandai menulis, pandai menggambar, atau pandai menghitung. Dengan bekerja, keahliannya digunakan setiap hari sehingga keahlian itu makin baik dan makin berkembang. Dia akan makin maju dan posisinya dalam pekerjaan pun makin meningkat. Itulah yang disebut dengan karier.

Karier adalah kebutuhan yang tingkatannya sudah lebih tinggi dibanding kebutuhan pokok. Orang-orang mengejar karier apabila kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi. Selain itu, untuk berkarier setiap orang perlu memiliki keahlian tertentu. Bagi banyak orang, keahlian tersebut diperoleh melalui pendidikan di sekolah, walaupun sekolah bukan satu-satunya tempat untuk mempersiapkan kamu masuk ke dunia kerja.

Jadi mengapa orang harus bekerja? Pertama, untuk mencari nafkah. Kedua, untuk mengembangkan dirinya. Ketiga, untuk menjalankan panggilan hidupnya. Setiap orang bekerja dengan alasan yang berbeda-beda, namun kamu akan merasa paling bahagia apabila kamu bekerja karena untuk memenuhi panggilan hidupmu.





Kompetensi
Karier mengandung pengertian pengembangan diri. Korelasi karier terhadap alasan mendasar mencari nafkah adalah bagaimana hasil bekerja mendapat penghargaan dan pada ujungnya akan terkait besaran nafkah terpenuhi. Dirumuskan dari sejauh apa pengembangan diri yang telah diperoleh sehingga sesuai dengan karier dicapai.

Darimana acuan pengembangan diri itu dapat dinilai atau menjadi skala. Sehingga kita dapat mengetahui dimana posisi kita sebenarnya dalam karier? Jawabannya nilai Kompetensi

Secara umum, pengertian kompetensi adalah suatu kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas di bidang tertentu, sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

Menurut Jack Gordon (1998), ada 6 aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu Pengetahuan, Pemahaman,  Kemampuan,  Nilai,  Sikap,  Minat

Secara etimologis kata “kompetensi” diadaptasi dari bahasa Inggris, yaitu “competence”  atau “competency” yang artinya kecakapan, kemampuan, dan wewenang. Sehingga pengertian kompetensi adalah gabungan antara pengetahuan, keterampilan dan atribut kepribadian seseorang sehingga meningkatkan kinerjanya dan memberikan kontribusi bagi keberhasilan organisasinya.

Sehingga dapat dirumuskan korelasi Tujuan bekerja – Karier - Besaran Nafkah terpenuhi – Kompetensi. 
Ketika kita bisa menilai kemampuan atau kecakapan melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas di bidang tertentu (atau sebagai nilai/skala Kompetensi) maka kita dapat melihat sejauh apa karier yang kita capai sehingga dari karier dapat dihargai untuk besaran nafkah yang dapat terpenuhi.

Mengurai Dalam Mencapai Kompetensi
Ketika konsep kompetensi, didefinisikan sebagai Pengetahuan, Pemahaman,  Kemampuan,  Nilai,  Sikap,  Minat. Maka pencapaian dapat diukur melalui Taksonomi Bloom

Taksonomi pertama kali oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956, dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya, yaitu:
Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hierarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

1 Domain Kognitif
1.1 Pengetahuan (Knowledge)
1.2 Pemahaman (Comprehension)
1.3 Aplikasi (Application)
1.4 Analisis (Analysis)
1.5 Sintesis (Synthesis)
1.6 Evaluasi (Evaluation)
2 Domain Afektif
2.1 Penerimaan (Receiving/Attending)
2.2 Tanggapan (Responding)
2.3 Penghargaan (Valuing)
2.4 Pengorganisasian (Organization)
2.5 Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)
3 Domain Psikomotor
3.1 Persepsi (Perception)
3.2 Kesiapan (Set)
3.3 Respon Terpimpin (Guided Response)
3.4 Mekanisme (Mechanism)
3.5 Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
3.6 Penyesuaian (Adaptation)
3.7 Penciptaan (Origination)

Sehingga dapat disimpulkan sebagai
Level 1 Mengingat
Tingkat berpikir paling rendah dan paling mudah diaplikasikan dalam pendidikan dan pekerjaan. Dengan pengertian memperoleh sebuah pengetahuan lalu kita akan dapat mengingat konsep tersebut.

Level 2 Memahami
Pada level ini kita bisa memahami sebuah konsep, seperti dapat menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan dari sebuah konsep.

Level 3 Menerapkan
Pada tingkatan ini kita sudah mampu melakukan atau menggunakan sebuah prosedur untuk menerapkan sebuah konsep dalam kegiatan.

Level 4 Mengkaji
Level ini kita mulai mengembangkan pemahaman yang kuat tentang materi pengetahuan sehingga mampu memecah bahan menjadi bagian-bagian penyusun, menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut saling berhubungan dan dengan keseluruhan struktur.

Level 5 Evaluasi
Level ini kita mampu membuat penilaian maupun kritik berdasarkan kriteria dan standar yang ada.

Level 6 Berkreasi
Level merupakan tingkatan tertinggi dalam keterampilan kognitif. Kita pada tahap ini mampu menghasilkan, merencanakan, atau memproduksi sesuatu yang baru.

Sebagai rumusan korelasi Tujuan bekerja – Karier - Besaran Nafkah terpenuhi – Taksonomi Bloom - Kompetensi 
Berdasarkan acuan Taksonomi Bloom, ketika bisa melihat kemampuan diri kita secara mandiri apakah diri kita sudah bisa sampai pada tingkat berkereasi atau baru bisa mengingat suatu konsep pekerjaan. Skalanya merupakan penilaian kemampuan atau kecakapan melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas di bidang tertentu (atau sebagai nilai/skala Kompetensi) maka kita dapat melihat sejauh apa karier yang kita capai sehingga dari karier dapat dihargai untuk besaran nafkah yang dapat terpenuhi.
(Ferry Agung)

Referensi
https://id.wikipedia.org/
https://www.maxmanroe.com
https://binus.ac.id/
https://anakbertanya.com/
Sumber gambar https://beritajatim.com/
====0000====

Stories Inspiration
We work with the biggest publishing companies around the globe, so you
can be assured you’re in safe hands.
Kiplinger's, Cosmopolitan, Entrepreneur, Augustman, Forbes, Elle, Shape, GoodHomes

Fares Micue – An ultimate message of Positivism
Lens Magazine|October 2021
I always try to isolate as many details as I can from the final image I want to create, like that I able to get to a more accurate representation of the image in my head.
For the most part, I work indoors, mostly using a plain black background, but on occasions, I choose to work outdoors, and even in these cases, I look for a uniform background like a bush, tree, or the sky.

For me, the essential element to transmit my ideas is the use of color and the placement of the chosen prop.

I am a highly positive person, so I always try to add that finishing touch to all my images, giving the ultimate

Continue reading your story with register via contact form this site

Post a Comment

Previous Post Next Post